Berawal dari kehidupan keras, berada dalam sandiwara bertemakan ketamakan, kekuasaan, kekuatan, dan kuantitas tanpa sebuah kualitas. Belajar dengan alam berhukum rimba ia perlahan hidup tak kenal takut dan lelah jejaki kerasnya kehidupan untuk menjadi actor dalam bingkai hidup karya sang kuasa.Disanalah ia berinteraksi dengan alam dan penghuninya, terpengaruh dengan keadaan brutal yang seakan-akan menjadi gaya khas remaja saat itu, jalanan tempatnya hidup dan belajar akan arti kehidupan, belajar berproses menjadi manusia mandiri dengan pedoman masih adakah harapan untuk masa depan.Dalam sunyi sendu ia bergumam akan kesepian rohani dalam sendiri ia keluhkan minimnya kasih sayang, karenanya terbentuk watak keras tak berpola akhlaq dengan kepribadian bebas tanpa welas asih terhadap diri sendiri ataupun individu lain. Penyesalan akan kesalahan yang telah ia perbuat terkadang menjadi bayang-bayang semu yang seakan tertutupi oleh kesenangan duniawi.Sungguh ia amat sangat hina dimata orang lain layaknya sampah ia dicemo’ohkan dalam lingkunganya “persetan kasih sayang persetan dengan cinta, semua hanya drama musical sang sutradara dunia” singkat kata kekufuran dari batinnya.Hari ini hari terakhirnya mengenyam pendidikan sekolah dasar negeri disuatu daerah kecil dimana ia menetap, dengan sifatnya yang aroganis ia melangkahkan tapak demi tapak kakinya menuju rumah dimana ia berproses menjadi remaja diskomunikation family“ aku pulang !” serunya saat memasuki pintu rumahnya…tanggap suara merdu lirih dari dalam “peringkat keberapa nak ?” Tanya ibunya…tanpa jawaban dan terus berjalan melintasi ibunya ia lemparkan selembar kertas dimeja berisikan keterangan nilai dan kelulusan.Kita sebut saja ia irwan seorang remaja kaku yang sebetulnya cerdas dan berpotensi, namun karena hausnya akan kasih sayang kemudian ia menjadi sesosok watak keras dan acuh tak acuh dengan keadaan sekitarnya, dalam hidupnya terakhir ia bercengkrama dan bercanda dengan ayahandanya adalah ketika saat ia berusia 5 tahun, itu semua tak lagi terulang hingga saat ia remaja dan entah sampai kapan ungkap hatinya dalam kalut.Pagi hari ia gunakan waktunya untuk menuntut ilmu disebuah lembaga pendidikan formal yang ia jalani dengan sebuah ideology “ Sekolah hanyalah tempat dimana orang mencari teman dan kemudian beraktivitas dengan tanpa adanya kekangan dari orang tua, kelarga ataupun guru”“Minggu ini kamu akan didaftarkan ke smp, nanti pak randi yang temani (seorang tetangga yang kemudian sering menjaga rumah keluarga ini saat mereka sibuk dengan pekerjaan atau keluar daerah), waktu kian berlalu meninggalkan sebuah kejadian yang kini berubah menjadi sejarah dan kenangan, kini irwanpun menetap di sebuah sekolah smp negeri dimana nantinya ia akan menuntut ilmu.Hari pertamanya kurang berkesan buatnya, Ia hanya diam dan diam saat datang maupun pulang dari sekolah karena tingkahnya yang aneh itu seorang gadis berparas anggun bertata rapi sepintas mengamatinya dan perlahan langkah kakinya mengarah pada pohon beringin rindang didalam lingkungan sekolah itu. Boleh duduk ? “Tanya sang gadis pada irwan”
