Jumat, 06 April 2012

Siapa Tuan dan Siapa Kacung

Kemarin begitu lantang terucap guna baktimu,seakan gelapnya dunia akan kau hijaukan bahkan putihkan dengan tanganmu, ketika itu sayup-sayup mata berlumuran iluh bentuk kobaran semangat dan mengagung-agungkanmu bergejolak enggan tuk pergi ingin tetap memapahmu untuk menjadi kerongkongan dan bibir penyampai keluh kesah kami sang manusia kurang beruntung dalam kehidupan ini. Coba dengar… dentuman janji dan prakarya ilmiah tentang pembangunanmu masih terdenting hangat pada selip-selup selaput gendang penuh kekecewaan ini, tak pernah tahu kebohongan ataukah kebenaran yang masih terbungkus rapih dan mungkin tak akan pernah terwujud, entah mengapa kekuasaanmu bag perekat hingga sulit tuk di lepaskan. Huuuuuufffttttt……!!!! Mungkin apa yang ku dengar sebatas gurauan sang pelayan yang sedang terlena melupakan dapurnya, sang kacang melupakan kulitnya,. Berfikirpun tetap kami tak mengerti dan kebingungan ini semakin menumpuk, siapa sebenarnya yang harus dengar keluh kesah kami, siapa yang hendak menyuarakat bait kata dan kalimat yang tak dapat tersuarakan ini, dan siapa yang harusnya melayani kami ? Badut berkantong menggemaskanpun dapat tertawa melihat realitas yang terputar Seratus Delapan Puluh Derajat ini, dan tetap tak bisa kumengerti siapa tuan dan siapa kacung dalam Drama kehidupan ini.